Serendipity sendiri adalah istilah dari
bahasa Inggris yang artinya 'kebetulan'. Dikatakan 'kebetulan' bukan
sesuatu yang dianggap meremehkan, namun sebuah 'kebetulan' yang
tampaknya sudah direncanakan dengan sangat baik oleh-NYA. Seperti yang
kurasakan ini...
IPK cemerlang
ternyata tak pernah menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan dengan
cepat. Di dunia kerja yang keras, persaingan jauh lebih ketat ketimbang
modal IPK saja. Dan beginilah aku, prestasi yang selama ini kubanggakan
bak selembar kertas yang hanya dikirim-kirimkan ke berbagai perusahaan.
Sudah banyak panggilan yang kudatangi, hasilnya... hingga sekarang tak
satupun pekerjaan yang bisa kujalani. Aku nyaris putus asa ketika
seorang teman mengajakku untuk ikut job fair di sebuah hotel terkenal.
Dan apabila ini adalah kesempatan untuk meraih mimpi, tak akan pernah
kulewatkan lagi.
Sebuah suara
mengejutkanku, "ada yang bisa dibantu?" dengan senyum yang ramah dan
manis ia menawarkan bantuannya. Aku memang tak pernah berpengalaman
mengikuti job fair. Alhasil di sana aku hanya bengong melihat ke sana
kemari dan membaca semua daftar nama perusahaan yang terpampang di depan
booth itu. "Ah, enggak. Masih lihat-lihat saja kok," jawabku. Iapun
kemudian menyodorkan sebuah lembar kertas, yang isinya posisi kerja di
tempat perusahaannya. Setelah kulirik, ah rasanya aku sama sekali tak
tertarik. Namun entah mengapa akhirnya aku menyodorkan amplop berisi
CV-ku padanya.
Setidaknya hanya
itulah hal yang bisa kuingat dari peristiwa setahun lalu. Aku bahkan tak
ingat bahwa ternyata Bara yang dulu menyodoriku info lowongan itu. Aku
begitu meremehkannya, walaupun ternyata bekerja di sini sangat
menyenangkan.
Ngomong-ngomong soal
Abimanyu, dialah topik yang ingin kubicarakan. Ia sosok yang sopan,
ramah, penuh senyum dan ahh... rasanya ia begitu sempurna untuk
kuceritakan. Haha... biarlah saja orang mengira aku cinta buta. Tetapi
jatuh cinta kepadanya adalah sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan.
Sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya, dan nyatanya memang kami
sengaja dipertemukan.
***
"Ta,
kamu yang harus mengatur event futsal antar divisi nanti yah. Pak
Bambang akan datang lho!" kata Silvia, manajer sekaligus sahabatku. Oh
tidak, batinku, kalau Pak Bambang datang artinya semua harus dalam
kondisi yang perfect. Dia tak akan suka kalau ada kekurangan di sana
sini. Atasanku yang satu itu adalah sang empunya perusahaan ini. Pewaris
tahta ketiga yang diberikan turun temurun dari kakeknya. Orangnya
sangat cerewet dan minta ini itu. Dan... seketika lamunanku dibuyarkan
oleh sosok manis yang kutahu namanya adalah Abi. "Ini daftar pesertanya,
tolong disusun dan dirapikan. Kalau kamu belum tahu gimana cara
ngaturnya, tanya saja pada Silvia," katanya membuatku terbengong. Ia
berbicara cepat, tidak memandangku dan langsung pergi. Huh! Buyarlah
semua pujianku kepadanya, ia tak lagi menjadi sosok yang manis dan
kukagumi. Ia begitu jutek dan angkuh.
Seperti
dugaanku, Pak Bambang memang memeriksa semua detail event kali ini.
Mengomentari semuanya dari A sampai Z, bahkan hingga ke sepatu pemain
tak lepas dari komentarnya. Namun ternyata usahaku tak sia-sia "Kerja
bagus Tita!" katanya memujiku. Apa yang sudah kususun membuatnya puas
walau masih diwarnai komentar darinya.
***
Aku
terduduk lesu. Masih kuingat peristiwa semalam ketika aku bertengkar
hebat dengan kekasihku di telepon. Kuberanikan diri untuk menemuinya
hari ini, berharap bahwa permasalahan di antara kami bisa diselesaikan
baik-baik dan hubungan kami kembali seperti dulu. "Ngapain kamu di
sini?" katanya ketus. Aku memang sengaja pulang lebih awal dan mampir ke
kantornya agar ada kesempatan untuk bertemu langsung dengannya. Dan di
luar dugaanku, sikapnya membuat nyaliku nyaris mengerut. "Jangan ngobrol
di sini, kita pergi saja," sambungnya. Kamipun berkendara dan
melanjutkan debat semalam di dalam mobil yang melaju kencang. Aku takut.
Tapi hatiku mengatakan ini adalah usaha terakhirku untuk mempertahankan
komitmenku dengannya. Komitmen yang telah kuhargai selama setidaknya 3
tahun ini. Aku punya mimpi menikah dengannya. aku sangat mencintainya.
"Turun!"
bentaknya. Di dekat sebuah perempatan jalan ia membentak dan
menurunkanku. Dengan penuh emosi dan sikap cuek seperti biasanya.
Kekasihku ini memang orangnya sangat temperamental. Ini bukan pertama
kalinya ia menurunkanku di tengah jalan ketika bertengkar. Aku tak ingat
berapa kali ia melakukannya padaku, sampai-sampai rasanya aku telah
terbiasa. Dalam hatiku, keesokan hari ia akan menyesal dan datang
pagi-pagi dengan membawa permohonan maaf padaku.
Hari
itu lain. Hatiku tak berkata begitu. Dan mungkin inilah pertemuan
terakhir kami, di mana ia sudah tak ingin lagi melanjutkan hubungan
kami. Aku sendiri merasa ini adalah hal yang aneh. Hubungan kami
bukanlah hubungan pasangan kekasih yang berjalan normal seperti
biasanya. Ia sering bersikap kasar, meninggalkanku dan menganggapku
sudah cukup dewasa serta mandiri untuk melakukan berbagai hal. Pikirku,
memang ia adalah orang yang sibuk, dan ia bukan tipe pria yang romantis
serta inginnya nempel ke mana-mana berdua. Aku menghargai sikapnya itu.
Aku sendiri juga bukan tipe wanita yang ingin selalu nempel ke mana-mana
dengan kekasihnya (awalnya kupikir begitu, ternyata aku juga ingin
diperlakukan manis oleh kekasihku.)
Aku
terdiam sejenak melihat mobilnya pergi meninggalkan dan semakin jauh,
sampai tak terlihat lagi. Belum terpikir dalam benakku hendak ke mana
ini. Akhirnya aku berjalan saja membiarkan kedua kaki ini membawaku.
"Mau ke mana? kok kamu di sini?" sebuah suara mengejutkanku. Suara yang
kukenal. Itu suara Abi. "Oh, iya aku mau pulang" kataku singkat.
"Naiklah. Kau kuantar saja," katanya. Tak berpikir panjang aku naik ke
atas motornya. Diboncengnya aku dan kamipun turun di sebuah cafe kecil
yang tak begitu ramai. "Yuk kita ke sini dulu, kamu butuh ketenangan
tampaknya," katanya lagi.
Aku tak
tahu kenapa ia seperti sangat mengerti aku. Aku tak pernah mengenal
dirinya. Tak pernah bicara panjang lebar kepadanya. Bahkan menurutku ia
adalah sosok pendiam dan angkuh, yang bahkan sekantorpun ia tak mau
menyapaku seperti rekan lainnya. Namun hari itu aku bercerita panjang
lebar tentang kejadian yang baru saja kualami. Aku tak pernah seterbuka
itu tentang kehidupan pribadiku. Tapi rasanya bercerita kepadanya
membuatku sangat lega, dan nyaman.
***
"Tita, Abi datang. Sudah ibu suruh masuk dan menunggumu. Cepatlah keluar," kata ibu mengetuk pintu kamarku.
Tak
berapa lama aku keluar dan memberikan sambutan hangat dan menggandeng
tangan Abi pergi. Sejak hari aku ditinggalkan oleh kekasihku, Abi
memberikan perhatian dan kenyamanan yang tak pernah kutemukan di diri
orang lain. Di balik sikap pendiamnya, ternyata ia penuh kehangatan dan
kasih sayang. Tak pernah ia memperlakukan aku dengan kasar sekalipun
kami berbeda pendapat. Kami selalu membahas semua hal dengan sangat
menyenangkan. Dengan sopan ia selalu menemani dan mengantarku sampai ke
tempat tujuan. Membuatku merasa dilindungi sebagai kekasih, dan seorang
wanita. Ia tak pernah meremehkan dan merendahkan aku. Bahkan ia yang
selalu memberikan dukungan pada setiap hal yang kulakukan. Yah... kuakui
memang ia bukan sosok yang selalu sempurna. Tetapi bagiku ia tetap
sempurna. Sesempurna pertemuan kami dulu. Pertemuan yang serba kebetulan
dan sangat indah.
Source : Vemale.com
Source : Vemale.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar